08 Mei 2014

SABTU SUCI



RAYAKANLAH PASKAH DENGAN HATI
(Mat 28:1-10)

Malam Paskah merupakan puncak perayaan iman umat Kristiani di seluruh dunia. Banyak orang Katolik, baik yang saleh dan “Napas” (ke gereja saat Natal-Paskah) akan datang ke gereja untuk merayakan Hari Kebangkitan Yesus. Akan tetapi, benarkah mereka mengimani Yesus yang telah bangkit? Padahal, ketika mereka tiba di gereja, mereka tidak melihat Yesus yang bangkit. Lambang kayu salib dan korpus Yesus masih dalam keadaan menderita. Bagaimana orang Katolik bisa berkata bahwa Yesus sungguh telah bangkit? Apakah iman mereka tentang kebangkitan Yesus Kristus sekadar iman ikut-ikutan?

Tentu saja kita tidak akan melihat Yesus yang bangkit, karena setelah pemakaman Yesus tidak ada seorang pun yang sungguh-sungguh melihat Yesus bangkit dari kematian-Nya. Namun, kebangkitan itu sungguh nyata terjadi karena ucapan Yesus sendiri yang bersabda, "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” (Mat 17:22-23); dan pesan malaikat kepada para perempuan di depan makam Yesus, guna dijadikan kesaksian para murid dan Gereja Perdana yang terus hidup hingga sekarang, "Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya (Mat 28:5-6).

Demikianlah Paskah adalah puncak perayaan misteri iman orang Kristiani yang tidak mudah diungkapkan. Meskipun begitu, perayaan iman ini selalu hidup dan nyata oleh mereka yang sungguh-sungguh beriman. Mengapa? Karena orang beriman tidak memiliki keraguan akan peristiwa salib dan berita kebangkitan Yesus yang diwartakan para rasul. Sekalipun tidak melihat Yesus yang bangkit, namun toh mereka masih mau merayakan Paskah Kristus setiap tahun. Itulah iman yang tidak mudah diungkapkan dengan akal sehat kita.

Walaupun hari Paskah selalu dirayakan setiap tahun, namun dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita temui ada orang Kristiani yang masih takut pada kematian dan meragukan kebangkitan badan bersama Yesus. Mereka bertanya-tanya kemana kah mereka jika sudah mati? Apakah surga dan neraka sungguh nyata? Atau surga dan neraka hanya imajinasi manusia saja? Parahnya, ada orang Katolik yang sekalipun setiap tahun setia merayakan Paskah, takut mati, dan meragukan surga, namun dalam kehidupan sehari-hari mereka masih senang berbuat jahat dan menyimpan dosa-dosa. Sadar atau tidak, orang-orang yang belum percaya pada berita surgawi dan suka berbuat dosa inilah yang sesungguhnya belum merayakan paskah Kristus dalam hatinya.


19 APRIL 2014


Doa:
Ya Tuhan, Ampunilah kami bila selama ini kami selalu merayakan Paskah Kebangkitan Yesus, Putra-Mu sebagai rutinitas hidup kami. Melalui doa ini, kami mohon, perbaharuilah iman kami untuk menghayati Paskah-Mu sebagai perayaan iman sejati
 dan kebangkitan kami untuk melawan dosa-dosa dan ketakutan kami. Alleluia.
Amin.

07 Mei 2014

JUMAT AGUNG (M) 2014

PENGHIANAT YESUS ZAMAN SEKARANG 
(Luk 23:46 Ibr 4:14-16; 5:7-9 Yoh 18:1-19:42) 

      Dalam Liturgi Gereja Katolik, hari Jumat Agung seringkali membawa perasaan tersendiri bagi mereka yang merayakannya. Ada umat yang mengeluh karena ibadatnya terlalu lama, hingga mengantuk, dan ada pula yang terharu saat mendengar Injil dimadahkan dengan “Passio” yang bertemakan “Kisah sengsara Yesus”. Di beberapa daerah, nyanyian madah kisah sengsara Yesus seringkali mengugah hati umat hingga menangis. Namun yang pasti, tujuan “passio” bukan supaya kita ikut menangis merasakan pengalaman penderitaan Yesus, melainkan supaya kita semakin memahami makna dibalik penderitaan, sengsara, penyaliban, kematian dan pemakaman Yesus bagi hidup kita dan hidup Gereja.

      Melalui Injil Jumat Agung hari ini, kita diajak untuk merenungkan bahwa penderitaan hidup kita selama ini, ternyata juga dialami dan dirasakan oleh Tuhan sendiri melalui pribadi Yesus. Seperti halnya kita, Yesus juga telah mengalami perasaan rasa sakit fisik, baik sakit dipukul, diludah, dicabik, ditikam, dibunuh dan perasaan sakit hati, dengan kata-kata kutuk, penghinaan, caci maki, tuduhan palsu, fitnah dan penghianatan. Salah satu permenungan yang dapat kita petik yaitu bahwa Yesus yang tidak bersalah harus mengalami penghianatan yang dilakukan oleh murid-Nya, Yudas Iskariot. Siapakah Yudas bagi Yesus? 

      Yudas Iskariot adalah bendahara pilihan Tuhan Yesus untuk mengurus keuangan dan mengatur kebutuhan makan minum komunitas para rasul. Seperti kita tahu bahwa posisi bendahara bukanlah sembarangan. Yang jelas, seorang bendahara di dalam komunitas para rasul adalah orang kepercayaan Yesus. Akan tetapi, tidak disangka bahwa Yudas Iskariot justru menjadi tokoh penghianat terkenal di dunia, sekaligus salah seorang penyebab penderitaan dan kematian Yesus. Melihat pengalaman Yesus, kita ingin diingatkan lagi bahwa seorang penghianat bisa muncul dari lingkungan hidup para pengikut Kristus. 

        Yang pasti, pada zaman sekarang, karakter penghianat itu marak terjadi di mana-mana dan tanpa kita sadari, penghianatan itu justru dilakukan oleh kita sendiri sebagai orang kepercayaan di dalam keluarga, lingkungan kantor, lingkungan persahabatan dan anggota Gereja. Mungkin saja sebagai suami istri, kita pernah menghianati kehidupan perkawinan suci kita, dengan dosa perselingkuhan dan perzinahan? Mungkin juga, sebagai orangtua kita telah menghianati anak-anak kita dengan melakukan kekerasan, penganiayaan, dan pelecehan sexual terhadap mereka? Mungkin, sebagai saudara kandung, kita telah menghianati saudara sendiri untuk merebut warisan, tanah, kekayaan, dan perusahaan keluarga? Mungkin, sebagai seorang sahabat kita telah menghianati sahabat kita hanya karena ingin memiliki istri atau suami mereka, atau ingin menguasai mereka?

       Dan sebagai orang Katolik, mungkin kita adalah penghianat Tuhan Yesus yang suka melakukan dosa-dosa yang bertentangan dengan hukum 10 Perintah Allah; kejahatan moral, free sex, aborsi, penyembahan berhala, pengikut sekte, pembunuh karakter, dan lain sebagainya. 

 Doa: 
Ya Tuhan, ampunilah kami karena selama hidup ini kami tidak setia kepada-Mu dan sering menghianati-Mu dengan menyakiti hati banyak orang, baik dengan pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian kami. Amin

15 Desember 2009

Humor Nama Orang Cina

Orang yang paling top di TAIWAN namanya CHIANG KAI SEK.


Yg banyak keturunan dari semua keturunannya yg paling HEBAT namanya LI HAI SEK.


Nama guru sesepuhnya GA KWAT SEK.


Nama bini guru nya KWAT MAIN SEK.


Trus nama anaknya SHU KHA SEK.


Nama cucunya yg msh kecil THAK TAU SEK.


Nama Tetangganya MIN THA SEK.


Yg nyebarin blogspot ini namanya SHE NENG SEK.


Trus yg lg baca blogspot ini namanya HO BI SEK.


Tapi kalo marah2 baca blogspot ini dia pasti namanya

PHI NGIN SEK.


Yang Tertawa baca blogspot ini namanya DO YAN SEK.


Bagi yg kirim kembali blogspot ini namanya HI PER SEK.


Tapi yg pasti nama gua bukan BHE RENG SEK.


Sekian sejarah keluarga & keturunan CHIANG KAI SEK.

Humor Nama Orang Jepang

Nama2 org jepang sesuai dgn Pekerjaan nya:

Kuraba Sakumu : Pencopet

Sayabisa Urusi : Calo

Nikita Sukanari : Penari di tmpt hiburan

Samakami Sampepagi :Cewek di nightclub

Takasi Kamucoba : Sales door to door

Kitakasi Murasaja : Seorang pemilik toko

Yukasi Kitaterima : Kasir

Takada Gaji : Pengangguran

Aigaya Sanasini : Fotomode

Kitabuka Kamupoto : Fotomodel bokep

Sukabawa Sayuri : Tukang sayur

Tyada Ruma : Gelandangan

Aisuka Susumu : Penjual pakaian dlm wnta

Kuobati Anumu : Dokter kelamin

Masimuda Masutipi : Artis cilik

Kusabuni Itunoda : Tukang cuci

PROPOSAL PENELITIAN


-->

“GERAKAN AGAMA PENTAKOSTALISME DI INDONESIA CENDERUNG DIANUT OLEH ORANG-ORANG INDONESIA KETURUNAN TIONGHOA”
I. MASALAH PENELITIAN
1.1. Pernyataan Masalah Penelitian
Pada dasawarsa terakhir menjelang tahun 2000, kita sering menjumpai maraknya gejala-gejala karya penyembuhan dan karunia Roh dalam kehidupan gereja di Indonesia. Gejala-gejala itu menampilkan beberapa gerakan gerejawi baru, yang dikenal dengan sebutan gerakan Pentakostalisme/karismatik. Gerakan ini begitu mengundang perhatian dari beberapa umat beragama. Secara praktis kita dapat menyaksikan acara kebaktian Kebangkitan Kebangunan Rohani yang menekankan “Berkat Tuhan dan Kesembuhan Ilahi”, disertai dengan demonstrasi mujizat-mujizat.[1] Perkembangan gerakan ini begitu sangat cepat dan mampu membawa pengaruh bagi kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah perkotaan.

Sebagai umat Katolik sudah tentu kita harus menghadapi realitas dan gejala-gejala itu dengan kritis dan hati-hati. Suatu fakta yang tidak dapat dipungkiri ialah bahwa banyak saudara-saudari kita penganut agama Katolik sudah tertarik, bahkan beralih imannya untuk mencari berkat dan memenuhi kepuasan batiniah melalui gerakan Pentakostal ini. Gereja Katolik mau tidak mau harus mengambil sikap yang bijaksana untuk menanggapinya. Sudah tentu persoalan ini sulit untuk dipecahkan, mengingat tubuh Gereja Katolik sendiri juga perlu mendapat kritikan tajam dan pembaharuan yang menyeluruh. Fakta sudah membuktikan bahwa ternyata banyak domba-domba Gereja Katolik begitu mudah menyeberang kandang dan mencari rumput yang lebih segar. Hal ini sudah tentu menarik untuk diadakan penelitian tentang pengaruh gerakan Pentakostal yang memiliki daya tarik tersendiri.

1.2. Kata Pendahuluan
Era globalisasi telah merambah dan membawa pengaruh yang sangat besar ke segala penjuru dunia. Dampak pengaruhnya juga telah membuahkan perubahan dan perkembangan emosional, mentalitas, spiritualitas dan cara pikir bangsa Indonesia. Ketika krisis ekonomi, sosial dan politik mulai melanda dan makin terpuruk, banyak orang Indonesia yang mulai terjangkit sakit penyakit fisik dan psikis. Ada orang yang bahkan mengidap penyakit kehilangan iman, takut hidup susah, takut miskin dan menderita. Namun, dengan munculnya gerakan Pentakostalisme yang begitu gencar, akhirnya ketakutan mereka hilang dan berubah menjadi semangat Kristiani yang baru.

Gereja-gereja bercirikan Pentakostalisme telah menjamur di seluruh pelosok Indonesia dan bahkan berhasil memberikan jaminan keselamatan dan penyembuhan ilahi. Inti pewartaan gerakan Pentakostal mengenai teologi Sukses terbukti telah menjadi harapan dan kekuatan baru bagi mereka yang takut hidup miskin iman dan material[2]. Selain itu ada orang Indonesia yang “sakit” karena depresi, stress lebih mudah tertarik untuk mencari rahmat penyembuhan dan doa pelepasan melalui pelayanan gerakan ini. Banyak orang yang mendapat berkat dan sukacita rohani dari pelayanan gerakan ini akhirnya percaya bahwa gerakan Pentakostalisme merupakan karya Roh Kudus yang diturunkan oleh Tuhan.

1.3. Penjelasan Istilah
(1). Pentakostalisme adalah suatu gerakan kebangkitan rohani yang bercorak fundamentalis. Gerakan ini mulai dalam umat beriman Metodis (Holines Movement; pertengahan abad 19), dan pada tahun 1901 di Brthel College di Topeka (Kansas, AS) dan dengan cepat merambat ke Houston, Texas dan Los Angeles (1906). Kemudian, pendeta-pendeta Eropa yang mengalami “pembaptisan dalam roh”, membawa gerakan ini ke Eropa Utara, lalu ke India dan Amerika Selatan. Mula-mula gerakan ini hanya ingin membangkitakan kembali semangat Pentakosta asli, namun pada akhirnya mendirikan gereja-gereja Pentakosta sejak tahun 1910. Gereja-gereja ini berpegang pada biblisme, bercorak fundamentalis, dan mementingkan pembaptisan dalam roh.[3]

(2) Teologi sukses atau Injil Sukses (Gospel of Success) adalah ajaran yang mengajarkan hidup berkelimpahan dan kemakmuran. Teologi ini sering juga dikenal sebagai Injil-injil Kemakmuran (prosperity), Kelimpahan, Berkat (Gospel of Blessing), atau Teologi Anak Raja.[4]
1.4. Hipotesis dan Pertanyaan Riset
Berangkat dari pengamatan dan pemikiran di atas, peneliti mulai tertarik untuk meneliti fenomena yang mencolok dari gerakan ini, yakni: Mengapa gerakan agama Pentakostalisme di Indonesia ini cenderung dianut oleh orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa? Hal ini sudah tentu sangat menarik untuk diteliti mengingat sejarah munculnya gerakan ini adalah dari Eropa dan bukan dari negara Asia. Akan tetapi mengapa gerakan ini mudah diterima oleh orang Indonesia keturunan Tionghao. Apa yang melatar belakangi ajaran ini begitu mudah diterima oleh orang Tionghoa? Apakah propaganda teologi berkat yang ditawarkan oleh gerakan ini ada kaitannya dengan filosofis orang Cina yang cenderung mengejar kesuksesan hidup? Atau apakah negara Indonesia yang telah menjadi tanah kelahiran mereka masih belum bisa memberi jaminan kesejahteraan bathin mereka? Lalu apa upaya Gereja Katolik untuk menghadapi fenomena ini?

1.5. Tinjauan Kepustakaan
Sampai saat ini peneliti belum menemukan adanya suatu penelitian atau buku yang berbicara tentang “Mengapa gerakan agama Pentakostalisme di Indonesia ini cenderung dianut oleh orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa?”. Sudah tentu hal ini akan menjadi kendala bagi saya untuk mencari catatan sejarah, tulisan para ahli dan buku kepustakaan yang benar-benar berbicara tentang masalah yang akan peneliti ajukan ini. Untuk sementara peneliti akan mencoba menggali permasalahan tentang gerakan Pentakostalisme ini dengan menggunakan beberapa buku inti, sebagai berikut:
1) Buku Kekuatan Ketiga Kekristenan yang diedit oleh Georg Kirchberger & John Mansford Prior
2) Mungkinkah Karismatik sungguh Katolik oleh Deshi Ramadhani, SJ
3) Teologi Sukses Antara Allah dan mamon oleh Herlianto
4) Pembaharuan Karismatik Katolik dari terjemahan P.L. Sugiri Dokumen 109 Uskup Amerika Latin 1987.
5) Buku Pegangan untuk Para Pemimpin dan Para Peminat - Pembaharuan Karismatik Katolik, oleh Fio Mascarehans.
Sedangkan untuk menggali dan mengenal alasan mengapa orang Tionghoa Indonesia sehingga mudah tertarik dengan gerakan Teologi yang ditawarkan Pentakostalisme, maka peneliti akan mencoba meneliti karakter, filosofis hidup orang Tionghoa Indonesia dan kedudukan mereka di mata aparat negara Indonesia maka akan menggunakan beberapa buku utama, sebagai berikut:
1) Mengenal Lebih dekat “Agama Khonghucu” di Indonesia, oleh M. Ikhsan Tanggok
2) Rahasia Bisnis Orang Cina, oleh Ann Wan Seng
3) Rahasia Sukses Bisnis Etnis Tionghoa di Indonesia, oleh Thomas Liem Tjoe
4) Membaca Kepribadian Orang-Orang China, oleh Adi Nugraha
5) Prasangka Terhadap Etnis Cina – Sebuah Intisari, oleh Dr. Yusiu Liem

1.6. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Peneliti ingin berusaha menjawab persoalan secara ilmiah dan teologis mengenai alasan orang Indonesia keturunan Tionghoa yang cenderung suka memilih agama Pentakostal.
2) Peneliti ingin mengamati dan mencari tahu tentang kebutuhan umat Katolik zaman sekarang.
3) Peneliti ingin mencoba mencari model berteologi kontekstual yang sesuai dengan zaman Modern ini dan ajaran Katolik.

1.7. Kepentingan dan Alasan Penelitian
Berdasarkan pengamatan dan latar belakang di atas, maka alasan penelitian adalah sebagai berikut:
  1. Teoritis: Peneliti berharap agar penelitian ini dapat meberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan, terutama bagi teologi. Besar harapan peneliti semoga dengan mempelajari penelitian ini, maka Gereja Katolik dapat memperbaharui dirinya untuk tampil menjadi lebih menarik dan tetap menghasilkan rumput segar dan hijau bagi umat.
  2. Praktis: Peneliti berharap agar hasil penelitian ini dapat menjadi sumbangsih bagi para pelayan Gereja, terutama bagi para imam yang bekerja di paroki atau di bidang kategorial untuk memahami masalah umat Katolik Indonesia keturunan Tionghoa. Dengan demikian, para romo juga dapat dengan mudah memberi pelayanan dan pembinaan secara bijaksana.
II. METODE PENELITIAN
Metode penelitian di sini merupakan cara dan sekaligus prosedur penelitian, serta hal-hal yang secara langsung berkaitan dengan pegumpulan data. Adapun metode yang akan peneliti paparkan di sini, antara lain:
1. Rancangan Penelitian
a) Hal-hal yang akan diperiksa
Secara khusus hal-hal yang akan diteliti di sini ialah eksistensi gereja-gereja Pantekostal dan cara pemimpinnya memikat pengikut. Kemudian kami juga akan mengadakan pengamatan hal-hal apa yang melatarbelakangi orang Tionghoa tertarik untuk masuk kelompok gereja Pentakostal, terutama secara psikologis. Selain itu, kami juga akan mencoba menanggapi fenomena ini melalui ajaran Gereja Katolik.
b) Tindakan-tindakan yang akan dilakukan:
Tindakan-tindakan yang akan kami lakukan ialah mengadakan pengamatan ke salah satu gereja pentakostal, dan mengumpulkan data-data dan menerapkan metode pengumpulan data.

2. Pengumpulan data
2.1. Pengumpulan Data, Keterbatasan, dan Anggapan Dasar
 2.3.1. Metode pengumpulan data
1) Wawancara
Peneliti merasa perlu mengadakan wawancara dengan beberapa umat Kristiani yang adalah orang Tionghoa dan non-Tionghoa. Hal ini perlu peneliti adakan guna mencari pendapat dan pandangan mereka tentang fenomena ini. Dengan demikian peneliti juga akan terbantu untuk mengetahui secara jelas, mengenai alasan dan harapan yang mereka cari ketika menjadi anggota gereja Pentakostal. Wawancara ini akan peneliti lakukan secara langsung maupun tak langsung, yakni melalui korespondensi email dengan beberapa sahabat yang adalah anggota jemaat salah satu gereja Pentakostal.

2) Administrasi instrumen
Penelitian ini juga tidak terlepas dari studi literer, oleh karena itu peneliti juga akan mencari sumber penelitian ini dengan mengumpulkan data yang ada. Peneliti akan mencoba mencari dokumen tentang sejarah dan asal usul munculnya gereja Pentakostal di Indonesia, serta kaitannya dengan orang Indonesia keturunan Tionghoa.

3) Observasi/pengamatan
Peneliti yang kebetulan adalah orang Indonesia keturunan Tionghoa juga akan melakukan pengamatan terhadap beberapa rekan, sahabat dan juga diri sendiri (auto-observation). Dalam hal ini peneliti akan mencari tahu gejala-gejala psikis dan peranan budaya Tionghoa yang bagaimana, sehingga gerakan Pentakostalisme ini dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi orang Tionghoa Indonesia.
III. ANALISIS DATA
3.1. Jenis Analisa Data
Penelitian ini bersifat analisis data kualitatif. Peneliti akan menganalisisData ini ini diambil dari data deskriptif dengan pengamatan dan pengalaman, dengan metode wawancara, dan dengan menyelidiki bahan yang ada.

3.2. Penyajian Data

3.3. Prosedur Analisis Data dan Uji Hipotesis

3.4. Penafsiran dan Evaluasi


[1] Herlianto, Teologi Sukses: antara Allah dan mamon, Jakarta: Gunung Mulia, 2006, hlm 2.
[2] Pertumbuhan gerakan Pentakostal ini sungguh mencengangkan: dari sebuah Gereja rumah tangga dengan anggota 10 orang pada tahun 1921 menjadi salah satu kekuatan utama dalam Kekristenan Indonesia. Bdk. G. Kirchberger & J.M. Prior (ed). Seri Verbum, Kekuatan Ketiga Kekristenan, Seabad Gerakan Pentakostal 1906-2006, Maumere: Ledalero, 2007, hlm. 63.
[3] A. Heuken, SJ, “Ensiklopedi Gereja”, Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1993, hlm.344-345.
[4] Herlianto, Teologi Sukses: antara Allah dan mamon, Jakarta: Gunung Mulia, 2006, hlm.1.

11 September 2009

ADA CINTA DIBALIK RASA


ADA CINTA DIBALIK RASA


Jatuh cinta

selalu indah

dikunjung rindu

sulit diduga


Jangan sesal

Jangan gelisah

Jangan memaksa

Jangan meresah


Bila cintamu

takkan terbalas

oleh si dia

berhati satu


Mungkin saja

suatu saat

dia berniat

membalas cinta

untuk dirimu

sekali waktu


Apa daya

karna naluri

mengusik hati

untuk mengerti


Ada insan

yg lebih pantas

mendapat

CINTA

dari dirimu


Malang, 03 Okt’09

(11.47 wib)




01 September 2009

LENTERA KEHIDUPAN 2



Hidup ini bagai
"lentera minyak mungil
yang harus terus bercahaya"

Sebagai manusia lemah,
... dirimu dan diriku ...
sudah ditakdirkan sang Cahaya,
untuk memancarkan cahaya
terang dan indah

.. yah ..
aneh tapi nyata,
kenyataannya
cahaya kita
suka berubah-ubah
....
kadang
bersinar terang
menyilaukan mata.
kadang
bersinar lembut
menyejukkan hati,
tidak jarang juga,
bersinar redup
berubah-ubah,
surut membias tipis,
mengarah gelap pekat,
akhirnya habis,
padam, sirna
dan tersisa asap-asap transparan.

Betuuuulll......!!!
tepat sekali teriak bapakmu....

"Itulah ...kau
si anak bebal,
angkuh, malas dan manja
yang tidak peduli untuk merawat
lentera minyak mungilmu,
sejak engkau belum belajar berbicara
sampai sekarang ini”.

Dalam hatiku
tersentak tidak suka disemprot bapak,
lalu aku pun nekad, bertanya:
...”Mengapa bapak?”...
“Apa salahku ibu?”

“Tidak nak” – jawab ibumu lembut
“engkau tidak salah tetapi hanya
sedikit tidak berpengalaman saja”
Kami berdua sadar bahwa sejak dari kandunganku,
engkau memang tidak suka dengan suara
nyanyian lagu-lagu lama ibu bapakmu.”

Ya, nak.....kami juga tahu, bahwa
engkau juga tipe anak yang tidak suka
mendengar lagu-lagu surga
yang kerap menghasilkan lirik syair:
“lentera mungil manusia duka yang merindukan suka”

Dengarlah bapakmu berkata, hai anakku ...
Andaikan ananda sedikit rendah hati,
sudah pasti ananda akan mampu memancarkan
cahaya "suka cita" daripada
cahaya "duka lara" yang selalu mengusik jiwa.

Aku diam terhening, tidak lagi bisa berbicara apa-apa,
mulutku terkunci rapat kaku,
air mataku menetes haru
dan tiba-tiba dari lubuk hatiku
muncullah suara kharisma:

“Cahaya-cahaya indah hanya dihasilkan oleh
seorang tukang perawat lentera yang tekun,
setia dan memahami arti sebuah CINTA.”

Apa pun keputusanmu untuk bersinar
....itulah yg terbaik untuk mu...
Yang jelas, sinar lentera mungilmu
bukan untuk menyinari dirimu semata-mata,
tetapi untuk semua orang buta yang "sakit"
yang masih terus berkeliling berputar-putar sendiri seperti orang gila,
yang masih terus merengek seperti orang takut kehilangan harta
yang masih terus menangis seperti seorang bayi merah
yang ditinggal ibu bapaknya
merantau jauh tidak peduli ke penjuru dunia.

Malang, 01 September 2009

23 Mei 2009

“Gagasan Keadilan Sosial Dalam Pidato Soekarno” (Tinjauan Analisis Sosiologis Pidato Soekarno)



1. PENDAHULUAN
Konsep keadilan sosial di negara Indonesia telah mendapat tempat yang utama oleh para bapa pendiri bangsa. Hal ini jelas sekali dapat dibuktikan dari gagasan Soekarno dalam pembicaraannya tentang Dasar Negara Indonesia di dalam sidang BPUPKI (1 Juni 1945). Akan tetapi dalam kenyataannya harapan Bung Karno kepada bangsa Indonesia yang telah mengalami kemerdekaan ini malah tidak terwujud sebagaimana mestinya.

Terbukti bahwa segala bentuk ketidakadilan dan penindasan terhadap bangsa Indonesia ternyata masih dapat kita jumpai di mana-mana, terutama sekali dalam kehidupan masyarakat minoritas yang masih mengalami ketidakadilan dari sikap para pejabat negara. Meskipun di Indonesia sudah menerapkan sistem demokrasi reformasi namun kebobrokan moral para pemimpin bangsa masih terasa. Tak sedikit wakil rakyat ditunjuk dan diangkat dari kalangan kenalan para penguasa dan pengusaha. Kasus korupsi, kolusi dan nepotisme masih tetap menjadi bahan berita hangat di media massa. Pengusuran pedagang kaki lima dan kaum miskin masih juga menjadi bagian dari program bayangan agenda tata kota. Lebih mengenaskan lagi ternyata praktek penghambatan membangun rumah ibadah masih saja berjalan. Tidak ketinggalan birokrasi kantor pemerintahan yang suka mempersulit etnis Tionghoa juga masih bisa kita jumpai.

Oleh karena banyaknya kasus ketidakadilan sosial di negeri ini, maka penulis tertarik untuk membahas gagasan Keadilan Sosial dalam pidato Soekarno dalam menanggapi toleransi hidup berbangsa, ditinjau dari analisis sosiologis. Melihat bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, maka dalam paper ini penulis akan mencoba memaparkan beberapa kegagalan para wakil bangsa Indonesia yang belum memahami gagasan Soekarno tentang keadilan sosial. Dalam menyusun paper ini penulis akan menggunakan metodologi analisis teks pidato Soekarno dan studi perpustakaan.

2. PENGERTIAN KEADILAN SOSIAL
Masyarakat yang tertata baik dalam keharmonisan dan keadilan merupakan cita-cita semua bangsa. Semua orang dalam satu negara selalu menginginkan hidup dalam keadilan dan persamaan hak dengan berpedoman pada peri kemanusiaan. Dengan demikian segala aspek yang melingkupi hidup masyarakat sudah tentu harus ditata seadil mungkin. Undang-undang yang adalah sarana penataan semua warga negara Indonesia, dengan demikian haruslah disusun sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi norma keadilan. Termasuk dalam hal ini pelaksanaan hidup bernegara bagi para pemimpin bangsa.

Menarik sekali bahwa konsep keadilan sosial telah menjadi salah satu pemikiran filosofis presiden Soekarno. Hal ini ditegaskan dalam sebuah pidato kuliah umum tentang “Pancasila”, yang diselenggarakan “Liga Pancasila” di istana negara. Adapun menurut Soekarno arti dari kata keadilan sosial itu ialah:

“Keadilan sosial ialah suatu masyarakat atau sifat suatu masyarakat adil dan makmur, berbahagia buat semua orang, tidak ada penghinaan, tidak ada penindasan, tidak ada penindasan, tidak ada penghisapan. Tidak ada – sebagai yang saya katakan di dalam kuliah umum beberapa bulan yang lalu – exploitation de l’homme par l’homme.”

Pemikiran Bung Karno tentang keadilan sosial ini sungguh jelas, tepat, sistematis dan tegas. Tampak sekali bahwa Seoekarno sangat memprioritaskan nilai keadilan dan menjunjung tinggi nilai hak-hak asasi manusia dalam konsep hidup berbangsa dan bernegara. Sudah tentu, lahirnya gagasan tentang definisi keadilan sosial ini merupakan hasil refleksi Soekarno tentang masa gelap sejarah bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia telah mengalami penderitaan, penindasan, penghinaan dan penghisapan oleh penjajahan Belanda dan Jepang. Pernyataan teks di atas membuktikan bahwa Soekarno ingin mencanangkan keadilan sosial sebagai warisan dan etika bangsa Indonesia yang harus diraih.

Upaya agar keadilan sosial dapat terwujud, maka keadilan sosial itu harus dimulai dari hidup bermasyarakat. Soekarno menyadari bahwa negara Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa akan mencapai keadilan sosial asalkan rakyat Indonesia telah dipersatukan menjadi satu bangsa, yakni bangsa Indonesia. Pemahaman aspek persatuan ini jelas tidak bisa terlepas dari aspek “rasa” setiap orang. Rupanya konsep tentang persatuan bangsa ini sudah lama digagas oleh Soekarno. Hal ini dapat dibaca dalam isi pidatonya:

Kita hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua”. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, - tetapi “semua buat semua”. Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti yang akan saya kupas lagi. Maka, yang selalu mendengung di dalam saya punya jiwa, bukan saja di dalam beberapa hari di dalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai ini, akan tetapi sejak tahun 1918, 25 tahun lebih, ialah: Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buatan Negara Indonesia, ialah dasar kebangsaan.

3. REALITAS HIDUP BERBANGSA DI INDONESIA
Dalam mencetuskan gagasan tentang keadilan sosial, Bung Karno tampaknya sudah memahami situasi negara Indonesia dan bangsanya yang rawan terjadi konflik. Indonesia sebagai negara yang pluralistis, terdiri dari bermacam-macam agama, etnis, suku, budaya maupun ras rupanya memiliki tantangan tersendiri bagi Soekarno. Tampaknya Soekarno sudah berpikir jauh bahwa bangsa Indonesia suatu saat nanti harus menghadapi paham pluralitas yang amat kompleks. Jika tidak ditata dengan baik, maka sudah tentu bangsa Indonesia akan menghadapi konflik besar, terlebih lagi bila konflik itu menyangkut konflik individual dan sosial.

Lalu apa yang dimaksud dengan konflik individual dan sosial di sini? konflik individual dan sosial itu dapat muncul antara lain disebabkan karena adanya ketidakpuasan batin seseorang untuk menerima dirinya sendiri, berhadapan dengan orang atau pihak lain, adanya perasaan cemburu, dengki, iri hati, benci dan berjiwa kontroversial. Konflik individual, jika tidak cepat ditanggulangi, maka cepat atau lambat akan membawa dampak pada konflik yang lebih besar, yakni konflik sosial. Sebagai contoh adanya “Rakyat kecil” yang tidak berprinsip hidup baik umumnya mudah dihasut dan “dibeli” oleh kaum actor intellectual yang bersaku tebal dan berambisi dalam dunia politik. Akibatnya gara-gara masalah lahan, isi perut, sandang pangan dan papan, pekerjaan, uang, dan kuasa, maka cepat atau lambat rakyat kecil itu bisa terlibat dalam konflik sosial yang menelan nyawa manusia .

Berbicara tentang cara mencapai keberhasilan ide menunju keadilan sosial ini, maka Soekarno melihat bahwa keadilan sosial tidak bisa terlepas dari usaha mempersatukan bangsa. Demikian juga bahwa persatuan bangsa juga tidak bisa lepas dari tata negara “Gotong Royong”. Apa yang dimaksud dengan Gotong Royong?

Menurut Soekarno : “Gotong-royong” adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah salah satu faham yang statis, tetapi gotong-rouong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo: satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan amal ini, bersama-sama! Gotong-royong adalah pembanting tulang bersama pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama!Itulah gotong-royong!

Teks ini merupakan pernyataan Soekarno untuk mengajak masyarakat Indonesia memahami bagaimana bangsa Indonesia harus mencapai visi-misi dan tujuan negara Indonesia. Pernyataan ini jelas memberikan pemahaman baru dalam aspek sosiologis, bahwa sistem Gotong-Royong adalah bagian dari nilai kehidupan keluarga dan warisan budaya bangsa Indonesia yang berharga. Pernyataan tentang negara Gotong Royong hendak mengarah pada nilai kebersamaan dan persatuan bangsa. Inilah konsep negara yang dicita-citakan Soekarno, yakni membentuk suatu komunitas yang solid dan kuat. Komunitas yang terhimpun dari berbagai macam suku, agama, ras, bahasa, dan kebudayaan.

Soekarno sangat memahami karakter asli orang Indonesia yang sesungguhnya memiliki kemampuan untuk maju dan mensukseskan pembangunan bangsanya. Mengapa? Karena Soekarno tahu dengan persis bahwa konsep Gotong Royong adalah milik masyarakat Indonesia sejak dahulu. Seluruh penjuru kepulauan Indonesia memiliki warisan dari nenek moyang mereka untuk bergotong royong.

Soekarno memiliki buah pikiran yang cemerlang tentang keadilan sosial. Gagasan keadilan sosial tidak bisa terlepas dari gerakan persatuan dan gotong royong. Justru bangsa yang tahu bersatu dan mau berkerjasama akan dapat memahami nilai keadilan sosial. Pernyataan ini ditegaskan lagi oleh Soekarno dalam pidatonya yang berbicara tentang nilai kebersamaan untuk mencapai cita-cita bangsa, yakni menciptakan masyarakat adil dan makmur.

“Di dalam penyelenggaraan masyarakat adil dan makmur semua memberikan tenaganya. Insinyur-insiyur memberi tenaganya, dokter-dokter memberi tenaganya, tukang-tukang gerobak memberi tenaganya, ahli-ahli ekonomi memberi tenaganya, ahli-ahli dagang memberi tenaganya, ahli-ahli pertahanan memberi tenaganya, semua memberi tenaganya. Bercorak macam, tetapi toh menjadi satu harmoni menyusun satu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila”. Bangsa Indonesia tetap membutuhkan partner dalam berjuang dan membangun negara yang adil dan makmur. Keadilan sosial tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja, akan tetapi keadilan sosial adalah tanggungjawab semua bangsa.

4. RELEVANSI
Dewasa ini negara Indonesia sedang dilanda konflik individu dan partial di dunia elite politik dan pejabat negara, baik pejabat tingkat pusat dan daerah. Kerinduan rakyat untuk mendapat pemerintahan yang jujur, bersih, dan bertanggungjawab tampaknya hanya wacana dan sebatas harapan. Ketidakadilan hukum telah merambat ke bidang politik, agama, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan semua sektor kehidupan. Sistem monopoli masih berkembang. Agama masih dijadikan pemicu konflik yang efektif. Pendidikan seakan-akan hanya dimiliki oleh anak-anak berduit, pejabat, penguasa, dan berkedudukan sosial tinggi.

Begitu pula kesehatan seolah-olah hanya disediakan dan ditujukan bagi orang-orang kaya. Tidak sedikit rakyat miskin menderita sengsara karena tidak mampu membayar pelayanan seorang dokter ahli. Harga obat tidak lagi murah, malahan mencekik. Di lain sisi, banyak orang ingin lari dari hidup sengsara sehingga mereka berbondong-bondong ingin menjadi pejabat dan wakil rakyat. Segala cara telah mereka lakukan, entah dengan membuat ijasah palsu sampai meminjam uang untuk dana kampanye. Lalu ketika mereka terpilih, semua janji-janji kampanye sudah berubah menjadi lahan basah bagi kepentingan pribadi.

Tampaknya situasi memasuki masa pemilihan wakil rakyat tahun 2009 nanti juga akan mulai merangsang konflik sosial di tengah rakyat kecil. Hampir setiap periode pemilihan umum, bangsa Indonesia sudah mengenal gerakan “Serangan” sejumlah anggota DPR terhadap Presiden Reformasi terpilih. Para lawan politik yang dahulu tidak terpilih menjadi presiden mulai berusaha melakukan jurus-jurus ampuh, untuk menjatuhkan lawan kampanye mereka. Melihat kenyataan adanya sikap mengejar kuasa dari kalangan elite politik, maka banyak para elite politik mengorbankan kepentingan dan kesejahteraan rakyat kecil dengan memperioritaskan ambisi pribadi.

Kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial yang merupakan cita-cita hakiki perjuangan para founding fathers sejak mempersiapkan kemerdekaan negara, tampaknya sudah mulai luntur bahkan tidak mendapat perhatian. Kesejahteraan rakyat yang harusnya mendapat jaminan hidup, rumah tinggal, pekerjaan, kebebasan beragama, dan pendidikan akhirnya hanya bersifat wacana dari setiap program pembangunan pemerintah. Harus diakui bahwa salah satu hal yang paling mudah ditemukan saat ini ialah kondisi pendidikan di Indonesia yang amat memprihatinkan. Masalah perndidikan telah meliputi infrastruktur yang menyedihkan, gaji guruh yang rendah, anggaran sektor pendidikan yang secuil atau murah dan mudahnya gelar-gelar akademik dijual oleh lembaga-lembaga pendidikan yang mengklaim memiliki hubungan dengan perguruan tinggi di luar negeri.

5. PENUTUP
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sudah waktunya bangsa Indonesia mulai menanamkan kepada diri sendiri suatu semangat untuk menegakkan keadilan sosial secara merata. Keberhasilan mencapai keadilan sosial itu akan terwujud apabila bangsa Indonesia selalu terbuka memupuk nilai persatuan dan gotong royong. Menegakkan keadilan sosial dalam masyarakat kita harus diawali dari diri kita sendiri, terutama di awali dari dalam keluarga. Sudah tentu untuk mencapai tujuan kita membutuhkan proses yang panjang dan kesabaran.

Untuk mencapai mentalitas yang memiliki keadilan sosial itu, bangsa Indonesia perlu menjadi "man of character"; manusia yang memiliki karakter. Soekarno telah membuktikan kepada kita. Kerja, semangat, strategi dan iman teguh menjadi kata kunci keberhasilan dan terutama akan menjadi kepuasan batin kita untuk menwujudkan nilai keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA


Chang, William, Kerikil-Kerikil Di Jalan Reformasi, Jakarta: Kompas, 2002.

Go, Piet, Peran serta Orang Katolik dalam Politik, Malang: Dioma, 1990,

Soekarno, Pantjasila Dasar Filsafat Negara oleh Bung Karno, Djakarta: Jajasan Umpu
Tantular, 1960

Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPKI),Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia,
1995.

Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, Ed.Herbert Feith, Lance Castles, Jakarta:
LP3ES, 1988